Artikel Education, General And Islamic

Ayat al-Quran Tentang Materialisme dan Kapitalisme

Artikel terkait : Ayat al-Quran Tentang Materialisme dan Kapitalisme

Materialisme dan Kapitalisme - Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis.

Image From www.linkedin.com

Sedangkan, Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.

Aplikasi dan dasar  mengenai Materialisme dan Kapitalisme sangat banyak dijelaskan dalam al-Quran sebagai salah satu pedoman untuk orang yang menganut faham tersebut.

Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan sebagian penjelasan ayat mengenai Materialisme dan Kapitalisme.
 

Ayat al-Quran tentang Materialisme dan Kapitalisme

Surat Al-Hadid Ayat 20

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠
 

Surat Al-Takatsur ayat 1-8


أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ١  حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ٢  كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ٣  ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ٤  كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ ٥  لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ٦ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ٧  ثُمَّ لَتُسۡ‍َٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ٨

Surat Al-Humazah ayat 1-9

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١  ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ ٢  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ٣  كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ ٤ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ ٥  نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ٦ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ ٧  إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ٨  فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ ٩

Surat Al-Baqarah Ayat 247

وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكٗاۚ قَالُوٓاْ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةٗ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةٗ فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٤٧

Surat Al-Kahfi Ayat 46

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا ٤٦
 

Surat Al-Fajr Ayat 20

 وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ٢٠

Terjemah beserta Tafsir Ayat


Surat Al-Hadid Ayat 20

“Ketahuilah bahwa tidak lain kehidupan di dunia itu hanyalah main-main, sendau gurau, perhiasan, dan berbangga-bangga diantara kamu dan bersibanyak pada harta benda dan anak-anak,...”

Untuk menafsirkan ayat ini, kita salinkan uraian dari al-Imam Fahruddin Ar-Razy dalam Tafsir Juzu’ 29. Kata beliau: “Ketahuilah lehmu bahwasannya hidup didunia ini ada hikmadnya dan ada benarnya. Ialah karena Tuhan telah bersabda bahwa Dia lebih tahu apa manusia tidak ketahui. Kalau bukan ada hikmat dan ada kebenarannya niscaya Allah tidak akan bersabda demikian. Dan lagi Tuhanpun tidak akan menciptakan hidup, dan disebutkan pula bahwasannya Tuhan telah menciptakan mati dan hidup ialah karena menguji kamu siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.[1]

Dan lagi Tuhanpun menegaskan bahwa tidaklah Tuhan menciptakan itu dengan sembarangan dan tak tentu arah, dan sabdaNya pula: “Dan tidaklah kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diatas keduanya dengan sia-sia”. Dan oleh sebab itu adalah nikmat, bahkan dia adalah asal pokok daripada nikmat, dan hakikat segala sesuatu tidak berubah, baik tatkala didunia atau diakhirat. Dan oleh karena Allah amat besar karuniaNya, oleh karena menciptakan hidup itu, maka bersabdalah Dia: “Bagaimana kamu akan kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan. Maka yang terutama dari berbagai macam nikmat itu ialah nikmat hidup itu sendiri.[2]

Oleh sebab itu maka dari segala yang telah kita turunkan itu dapatlah kita katakan bahwa kehidupan dunia ini tidak tercela. Melainkan dengan yang dimaksud dengan mengutuki hidup ialah jika hidup dipergunakan untuk mengikuti kehendak ssyaitan dan hawa nafsu. Itulah yang tercela. Hidup itulah yang dijelaskan cacatnya oleh Tuhan. Pertamabahwa hidup yang begitu adalah La’ibun, artinya main-main. Itulah perbuatan kanak-kanak yang badannya payah, faedahnya tidak ada. Kedua ialah Lahwu, yang berarti sendau gurau, yaitu perbuatan anak muda-muda. Biasanya setelah selesai sendau gurau tidak ada bekasnya melainkan penyesalan. Karena orang-orang berakal merasakan sendiri bahwa setelah sendau gurau itu selesai bekas yang tinggal hanya menyesal, harta habis, dan umurpun habis, kepuasan bergantidengan kepenatan, sedang jiwa haus hendak mengulanginya kembali. Kemudian ternyatalah bahwa mahdharatnya datang beruntun tak berkeputusan. Kemudian dikatakan pula bahwa dunia itu tidak lain hanya perhiasan. Inilah pangkal kerusakan, karena perhiasan adalah berusaha memperbagus barang walaupun kurang bagus. Dan semua kita telah maklum bahwa pugaran yang didatangkan kemudian tidaklah dapat mengulanginya sebagai baru.[3]

Maka apabila sudah jelas bahwa usia itu dari muda hingga tua, dari kokoh pasti menuju runtuh, bagaimanalah seorang yang berakal hendak membuat waktunya menahan perjalanan yang wajar bahwa yang kokoh menuju rusak. Sebab itu maka Ibnu Abbas memberikan saja kata ganti dalam Tafsir ini: Makna ayatialah bahwa orang yang kafir itu siang malam yang difikirkannya di dunia ini adalah memperbaiki yang rusak dan diapun lupa kepada kehidupan akhirat. [4]
Surat Al-Takatsur

“Kamu telah diperlalaikan oleh bermegah-megahan”. Maksudnya, Kamu telah terlalai, terpaling daripada tujuan hidup yang sejati. Kamu terlalai dan terlengah karena kamu telah diperdayakan oleh kemegahan harta benda. Sampai kamu berbangga kepada sesama manusia. Padahal semuanya adalah keduniaan yang fana belaka. “Sehingga kamu melewat ke kubur-kubur”, maksudnya Dan kamu tidak insaf bahwa apabila kamu masuk ke kubur tidak akan balik lagi ke dunia. Maka terbuanglah umurmu yang telah habis mengumpul harta, mencari pangkat, pengaruh, dan kedudukan. Setengah ahli bahasa memberi nama ungkapan bagi kubur, yaitu serambi akhirat. “Kalla, Sekali-kali tidak!” Artinya, bahwasanya hidupmu yang telah terlalai karena mengumpulkan harta, kekayaan, kemegahan itu sekali-kali tidaklah perbuatan terpuji. “Bahkan, akan kamu ketahui kelak”. Akan kamu ketahui sendiri kelak bahwa perbuatanmu yang sepertti itu tidak ada faedahnya sama sekali. [5]

“Kemudian itu,” kamu tekankan sekali lagi “sekali-kali tidak”lah benar sikapmu itu, “Bahkan akan kamu ketahui kelak”. Bahwa segala perbuatanmu mengumpul dan bermegah-megah dengan harta dunia fana itu percuma belaka. Diakhirat semuanya itu tidaklah akan menolong. Menurut sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa, pada ayat 3 suatu pemberitahuan bahwa kamu akan tahu sendiri kelak apabila kamu telah masuk ke dalam suasana alam kubur, mana kainmu, mana bajumu, mana pangkatmu, dan kebesaran yang kamu megahkan di dunia ini. Bukankah hanya kain-kain kafan membungkus diri? Dan pada ayat 4 diperingatkan pula bahwa kamu akan tahu sendiri kelak sesudah alam kubur itu akan melanjutkan kepada alam barzah, kemudian itu panggilan hari kiamat. Di waktu itupun akan kamu saksikan sendiri kekayaan dunia yang kamu megahkan dahulu sama sekali tidak ada artinya lagi, yang berarti hanyalah amalan di dunia untuk diambil hasilnya diakhirat. [6]

“Sekali-kali tidak!” diulangkan lagi bahwa percumalah usahamu memegahkan hartabenda yang tidak berarti itu. “Kalau kiranya kamu ketahuilah dengan pengetahuan yang yakin”. Artinya kalau kiranya kamu pelajarilah rahasia hidup ini dengan seksama, sampai menjadi ilmu yang yakin dan kamu dengar petunjuk yang dibawakan oleh Rasul SAW. “Sesungguhnya akan kamu lihatlah neraka itu”. Artinya bila tatkala hidup ini kamu pelajari ajaran Muhammad dengan seksama, dengan iman, niscaya akan kamu lihat neraka itu sebagai ganjaran bagi orang yang ingkar. Meskipun belum kamu lihat dengan mata kepalamu, pasti dapatlah dilihat dan diyakini oleh fikiran yang sehat dan jernih. “Kemudian itu”, Sesudah kamu fahami semuanya, maka ketahuilah bahwa “Sesungguhnya kamu akan ditanyai di hari itu kelak dari hal nikmat”.     [7]

Surat Al-Humazah

“Kecelakaanlah” lafadz al-Wail adalah kalimat kutukan, atau nama sebuah lemabah di neraka Jahannam. “Bagi setiap pengumpat lagi pencela” artinya yang banyak mengumpat dan banyak mencela. “Yang mengumpulkan” lafat itu dapat dibaca jama’a dan jamma’a. “Harta dan menghitung-hitungnya”  dan menjadikannya sebagai bekal untuk menghadapi bencana dan malapetaka. “Dia menduga” maksudnya karena kebodohan. “bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” dapat menjadikannya hidup kekal dan tidak mati.[8]

“Sekali-kali tidak!” kalimat ini mengandung makna sanggahan. “Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan” mejadi jawab qasam dari lafadz yang tidak disebutkan, artinya: Sesungguhnya dia benar-benarakan dicampakkan. “Kedalam Hutamah” dan segala sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya pasti hancur berkeping-keping. “Dan tahukah kamu apa Hutamah itu?”, “Yaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan yang naik sampai kehati”, maksudnya panasnya membakar. Rasa sakit yang diakibatkan api neraka jauh lebih memedihkan daripada api lainnya, karena api neraka sangat lembut dan dapat memasuki pori-pori, lalu membakar hati. “Sesungguhnya api itu atas mereka” didalam ayat ini dhamir dijamakkan karena memandang dari segi makna, “ditutup rapat-rapat” dapat dimusadah, artinya mereka dibakar dengan api itu dalam keadaan ditutup rapat. “Pada tiang-tiang yang panjang” artinya lafadz ini menjadi sifat dari lafadzsebelumnya, dengan demikian maka api itu berada dalam tiang-tiang tersebut.[9]

Surat Al-Baqarah Ayat 247

“Kata Nabi SAW kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut bagi kamu sebagai raja. Jawab mereka: Bagaimana Ia akan menjadi raja kami? Padahal kami lebih berhak terhadap kerajaan ini dari padanya”. Ia bukanlah dari keturunan rajan atau bangsawan, dan bukan keturunan Nabi. Bahkan dia hanyalah tukang samak atau gembala. “Sedangkan diapun tidak diberi kekayaan yang mencukupi” yakni yang amat diperlukan untuk membina atau mendirikan sebuah kerajaan. “Kata Nabi: Sesungguhnya Allah telah memilihnya” sebagai rajamu. “dan menambahinya pula keluasan dalam ilmu dan tubuh” Memang ketika waktu itu dia orang Israel yang paling berilmu, gagah, dan berakhlaq. “Dan Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”.[10]

Surat Al-Kahfi Ayat 46.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” Kita datang ke dunia ini, dan seteah itu kita akan pergi. Sementara kita hidup ini diperhiasilah hidup kita dengan harta benda, Kita sebagai insabn ingin mempunyai harta benda Tuhanpun telah mentakdirkan juga kita suka akan perhiasan hidup itu sebagai dijelaskan pada surat ali-Imran ayat 14, Isteri-isteri yang setia, anak cucu yang membawa kegembiraan hidup,...semuanya adalah perhiasan hidup. Semua yang berfikiran sehat mengakui bahwa manusia lebih senang dengan segala-galanya. Banyak yang mempersoalkan tentang perhiasan dan membicarakannya di dalam al-Quran, tetapi selalu diperingatkan jangan lalai dan lupa bahwa dia masih dalam pertengahan jalan. Mnusia belum sampai pada perhentian terakhir, maka lanjutan ayat memperingatkan “tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.[11]
 

Surat Al-Fajr Ayat 20

“...dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.
Ayat ini mempunyai hubungan denga ayat sebelumnya, yang menjelaskan bahwaAllah mengingkari sebagian hambaNya yang berkeyakinan bahwa Dia meluaskan rizki kepada mereka itu dimaksudkan untuk menghormati mereka dan bila menyempitkan rizki berarti menghinakan mereka. Kenyataannya tidaklah seperti yang mereka yakini itu, sebab Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai juga dan yang tidak dicintai juga, dan menyempitkannya juga kepada keduanya.[12]

Asbab al-Nuzul Sebagian Ayat Materialisme dan Kapitalisme

Turunnya surat al-Takatsur dikemukakan bahwa ayat ini (S.102:1-2) turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan keburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah.[13]

Sedangkan surat al-Humazah diturunkan berkenaan dengan orang yang suka mengumpat Nabi SAW, dan orang-orang mukmin, seperti Umayyah Ibnu Khallaf, Al-Walid Ibn al-Mughirah, dll.[14]

Surat Al Hadiid pada umumnya menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan anjuran bernafkah dan membelanjakan harta di jalan Allah. Dan juga menerangkan bahwa Allah mengutus para nabi dengan membawa agama untuk kebahagiaan hidup manusia di samping itu menciptakan besi yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya dan untuk mempertahankan agama yang dibawa oleh rasul-rasul itu.

Dalam surat at-Takatsur keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi, sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru menyadari kesalahannya itu setelah maut mendatanginya; manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya. Dalam surat at-Takatsur dijelaskan tentang ancaman Allah terhadap orang yang lalai dan bermegah-megahan. Maksudnya bermegah-megahan adalah dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Hingga mati dikuburkan di dalam tanah atau hingga menghitung-hitung banyaknya orang yang telah mati.

Sedangkan surat al-Humazah menjelaskan tentang ancaman Allah terhadap orang-orang yang suka mencela orang lain, suka mengumpat dan suka mengumpulkan harta tetapi tidak menafkahkannya di jalan Allah.

Kemudian Surat Al Kahfi dimulai dengan menerangkan sifat Al Quran sebagai petunjuk dan peringatan bagi manusia, dan sebagai peringatan pula terhadap mereka yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Semua yang ada dipermukaan bumi merupakan perhiasan bagi bumi dan sengaja diciptakan Allah agar manusia memikirkan bagaimana cara mengambil manfaat dari semuanya itu. Kekuasaan Allah dan betapa luas pengetahuan-Nya dikemukakan dalam surat ini dengan menyebutkan kisah Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s., kisah Dzulqarnain dan dengan mengibaratkan bahwa seandainya semua air yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu pula dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, tentu tidak akan mencukupi. Kemudian diterangkan bahwa semua amal orang musyrik itu tidak diberi pahala di akhirat, sedang untuk orang-orang mukmin disediakan Jannatun Na'im.

Surat Al Fajr mengemukakan contoh umat yang ditimpa azab dan beberapa sifat-sifat manusia yang tercela, serta menegaskan kemuliaan yang diberikan Allah s.w.t kepada orang yang berjiwa tenang.

Daftar Pustaka

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. Tafsir Ibn Al-Katsir. Jakarta: Gema Insani Press. 2000.
As-Suyuti, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin. Terj. Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nuzul jilid 1 dan 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo.  2004.
Hamka. Tafsir Al-Azhar  juz XXVII. Jakarta: Pustaka Panji Mas. 1982.
Hamka. Tafsir Al-Azhar juz XV. Jakarta: Pustaka Panji Mas. 1982.
Shaleh dan Dahlan. Asbab An-Nuzul (Latar belakang Historis Turunnya Ayat-ayat al-Quran). Bandung: Penerbit Diponegoro. 2000.

Fote Note
[1] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta:Pustaka Panji Mas, 1982), juz XXVII, hlm. 294.
[2] Hamka, Tafsir Al-Azhar, hlm. 294.
[3] Ibid., hlm. 295.
[4] Ibid., hlm. 295.
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar, ( Jakarta:Pustaka Panji Mas, 1982), juz XXX, hlm. 248.
[6] Hamka, Tafsir Al-Azhar, hlm. 249.     
[7] Ibid., hlm. 249.
[8] Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terj. Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nuzul, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004), Jilid 2, hlm. 1379.
[9] Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terj. Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nuzul, hlm. 1380.
[10] Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Jilid 1, hlm. 139.
[11] Hamka, Tafsir Al-Azhar, ( Jakarta:Pustaka Panji Mas, 1982), juz XV, hlm. 212.
[12] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir Ibn Al-Katsir, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 976-977.
[13] Shaleh dan Dahlan, Asbab An-Nuzul (Latar belakang Historis Turunnya Ayat-ayat al-Quran), (Bandung: Penerbit Diponegoro, 2000), hlm. 643.
[14] Ibid., hlm. 644.

Demikian sedikit ulasan tentang Ayat al-Quran tentang Materialisme dan Kapitalisme semoga bermanfaat, jangan lupa komen, like and share. Terimakasih atas kunjungannya dan bagi sahabat blog ARWAVE yang menginginkan materi terkait dengan pembahasan saat ini atau yang lain silahkan tulis di kotak komentar. 

Artikel Arwave Blog Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Coment ya sooob...!

Copyright © 2015 Arwave Blog | Design by Bamz